Rabu, 28 September 2011

LAPORAN HASIL PENELITIAN

PENGARUH KONSELING KELOMPOK TERHADAP KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA KELAS X.8 MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 KUDUS

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian II

Dosen Pengampu : Drs. Sabar Rutoto, M.Pd.


 


Di susun oleh :

Za'imah        ( 2008-31-014 )

Retno Handayani    ( 2008-31-026 )

Arief Burhanuddin N    ( 2008-31-074 )

Nor Patmiyati        ( 2008-31-154 )

Nur Kholisoh        ( 2008-31-168 )


 

PROGDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MURIA KUDUS

2011

BAB I

PENDAHULUAN


 

  1. Latar Belakang Masalah

    Manusia diciptakan sebagai mahuk pribadi dan sosial. Sebagai mahluk sosial, kehidupan manusia ditandai dengan pergaulan antar manusia, misalnya pergaulan dalam keluarga, lingkungan tetangga, sekolah tempat kerja, organisasi sekolah dan lain-lain. Hakekat pergaulan itu ditunjukkan antara lain oleh derajat keintiman , frekuensi pertemuan, jenis relasi, mutu interaksi diantara mereka, terutama faktor keterlibatan dan saling mempengaruhi.

    Dalam berinteraksi manusia membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Pengaruh komuniksi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan ide gagasan) dari suatu pihak kepada pihak lain agar saling mempengaruhi diantara keduanya home page (tersedia dalam http://id.wikipedia.org/).

    Menurut Devito (dalam Liliweri 1997:12) komunikasi interpersonal (komunkasi antar pribadi) adalah pengiriman dari seseorang dan diterima oleh orang lain dengan efek dan umpan balik yang langsung.

    Konseling kelompok menurut Litipun (2001:149) merupakan salah satu bentuk konseling dengan memanfaatakan bentuk konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan balik (feedback) dan pengalaman belajar. Konseling kolompok dalam prosesnya mengggunakan prinsip-prinsip dinamika kelompok (group dynamic).

    Siswa kelas X tergolong sebagai remaja. Menurut Mappiare (1982:27) mengemukakan pengertian remaja adalah:

"masa remaja mempunyai rentang usia dari 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita, dan 13 tahun sampai 22 tahun bagi pria. Jika dibagi atas remaja awal dan remaja ahir, maka awal berada dalam usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun, dan remaja akhir dalam rentang usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun."


 

Berdasarkan urian diatas, maka konseling kelompok dilaksanakan atau diberikan di MAN 1 KUDUS untuk meningkatkan komunikasi interpersonal (komunikasi antar pribadi) yang dimiliki setiap anggota dan dapat berkomunikasi secara efektif.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mengadakan penelitian dengan judul " Pengaruh Konseling Kelompok Terhadap Komunikasi Interpersonal Siswa Kelas X MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011".


 

  1. Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian diatas maka, permasalahan ini dirumuskan sebagai berikut : "Adakah Pengaruh Positif dan Signifikan Konseling Kelompok Terhadap Komunikasi Interpersonal Siswa Kelas X MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011".


     

  2. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu :

  1. Mengetahui komunikasi interpersonal Siswa Kelas X MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011.
  2. Mengetahui seberapa besar pengaruh layanan konseling kelompok terhadap komunikasi interpersonal siswa Siswa Kelas X MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011.


     

  1. Manfaat Penelitian

Suatu penelitian diharapkan hasilnya dapat bermanfaat bagi pihak terkait, baik manfaat teoritis maupun praktis. Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu :

  1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini dapat lebih memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang layanan Bimbingan dan Konseling sebagia acuan untuk penelitian lebih luas lagi.

1.4.2 Secara Praktis

  • Memberi masukan kepada kepala sekolah berupa informasi ilmiah tentang pentingnya memberi layanan konseling kolompok pada para siswa agar dapat berkomunikasi secara efektif.
  • Bagi guru pembimbing agar memberikan pengarahan kepada siswa tentang pentingnya layanan konseling kelompok dengan komunikasi interpersona siswa.
  1. Lokasi Penelitian

    MAN 1 KUDUS merupakan salah satu sekolah negeri yang berbasis agama. MA tersebut terletak di desa conge


     

  2. Definisi Operasional

    Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan terhadap istilah serta isi dalam judul skripsi ini, maka perlu ditegaskan definisi operasional dalam skripsi ini meliputi :

    1. Konseling Kelompok

    Menurut Winkel (2004:590) pengetian konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.

    1. Komunikasi Interpribadi

    Menurut Devito ( dalam Liliweri, 1997:12) komunkasi interpersonal (komunikasi antar pribadi) adalah pengiriman pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain dengan efek dan umpan balik yang langsung.

Berdasarkan uraian diatas, maka judul penelitian berbunyi " Pengaruh Konseling Kelompok Terhadap Komunikasi Interpersonal Siswa Kelas X MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011" adalah suatu upaya yang dilakukan peneliti untuk mengetahui pengaruh layanan konseling kelompok terhadap komunikasi interpersonal Siswa Kelas X MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011.


 

  1. Sistematika penyusunan laporan

    Bab I pendahuluan berisi tentang latar belakang, permasalahan atau rumusan masalah, tujuan penilaian, manfaat , lokasi penilaian, definisi operasional dan sistematika penyusunan laporan.

    Bab II kajian pustaka berisi tentang teori terutama pengertian penelitian, pengertian konseling kelompok, dan pengertian komunikasi interpersonal.

    Bab III metodologi penelitian membahas tentang Rancangan penelitian, populasi, sampel, variable yang diteliti, metode pengumpulan data, dan metode analisis data

    Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan membahas tentang penelitian dan pembahasan.

    Bab V Kesimpulan dan rekomendasi, terdiri dari kesimpulan dan saran dari hasil penelitian pengaruh konseling kelompok terhadap komunikasi interpersonal siswa di MA Negeri I Kudus


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

BAB II

KAJIAN PUSTAKA


 

  1. Konseling Kelompok
    1. Pengertian konseling kelompok

    Menurut Winkel (2004:590) pengertian konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan prilaku dari prilaku yang disadari.

    Menurut Natawijaya (dalam Wibowo, 2005:32) konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepad individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan pencegahan, yang diarahkan pada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya.

    Berdasarkan uraian diatas, penulis menyimpulkn bahwa konseling kelompok merupkan suatu proses hubungan antar pribadi yang dinamis yang dibimbing oleh konselor kepada individu yang normal dengan berbagai masalah, dilakukan dalam situasi kelompok yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan individu melalui dinamika kelompok.

    1. Komponen Konseling Kelompok

      Menurut prayetno (2004:4) layanan konseling kelompok ada 2 komponen yaitu :

      1. Pimpinan Kelompok

        Pimpinan kelompok adalah konselor terlatih dan berwenang menyelenggarakan praktek konselor profesional. Tugas pimpinan kelompok adalah memimpin kelompok yang bernuansa layanan konseling melalui "bahasa" konseling untuk mencapai tujuan-tujuan konseling karakteristik pimpinan kelompok adalah seorang yang :

  • Mampu membentuk dan mengarahkan kelompok
  • Berwawasan luas
    • Memiliki kemampuan hubungan antar personal yang baik
  1. Anggota Kelompok

    Menurut Preyetno (dalam Latipun, 2004:168) menjelaskan tentang peranan anggota kelompok sebagai berikut

  • Membantu terbinanya suasana keakraban anggota kelompok
  • Mencurahkan segenap perasaan dan melibatkan dalam kegiatan kelompok.
  • Berusaha agar apa yang dilakukan dapat membantu tercapainya tujuan bersama
  • Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya
  • Berusaha secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok
  • Berkomunikasi secara terbuka
  • Berusaha membantu anggota lain
  • Memberi kesempatan kepada anggota lain untuk menjalankan perannya
  • Menyadari pentingnya kegiatan kelompok


     

  1. Tujuan Konseling Kelompok

    Menurut Hansen ( dalam Wibowo, 2005:305) tujuan konseling kelompok secara umum adalah :

  • Memberi kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar, karir
  • Membantu menghiangkan titik lemah yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi, sosial, belajar, karir
  • Membantu mempercepat dan memperlancar penyelesiaan masalah yang dihadapi siswa yang berkaitan dengan pribadi sosial belajar, karir

Menurut Sukadi (2000:49) tujuan konseling kelompok secara kusus adalah :

  • Melatih anggota kelompok agar berani berbicara dengan orang banyak
  • Melatih anggota kelompok dalam bertenggang rasa terhadap teman sebaya
  • Mengembangkan bakat dan minat masing-masing anggota kelompok
  • Mengentaskan permasalahan-permasalah kelompok

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan konseling kelompok adalah pengambangan pribadi, pembahasan dan pencegahan masalah yang dialami oleh para anggota kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok


 

  1. Kelebihan dan kekurangan konseling kelompok

Menurut Wibowo (2005:41) kelebihan konseling kelompok yaitu :

  • Kepraktisan
  • Anggota konseling kelompok untuk berlatih tentang prilaku yang baru
  • Anggota memiliki kesempatan yang luas untuk berkomunikasi dengan teman-temannya
  • Konseling kelompok memberi kesempatan para anggota untuk mempelejari keterampilan sosial
  • Anggota kelompok mempunyai kesempatan untuk saling memberi bantuan, menerima bantuan dan berempati dengan tulus dalam konseling kelompok
  • Motifasi manusia muncul dari hubungan kelompok kecil

Menurut Gladding (dalam Mamat Supriatna, 2004:253) konseling kelompok mempunyai kelemahan yaitu :

  • Jika anggota kelompok tidak diseleksi secara cermat, kelompok mungkin tidak mampu untuk memotifasi anggota kelmpok untuk berpartisipasi atau berinteraksi
  • Beberapa remaja mungkin merasa tertekan untuk penyesuaian diri dengan perilaku-perikalu yang mereka tidak yakin
  • Individu-individu dalam kelompok mungkin tidak mendapatkan perhatian yang cukup
  • Kerja kelompok seringkali menghadapi hambatan yang berkaitan degan isu-isu legalitas dan etika


     

  1. Penyelenggaraan Konseling Kelompok
    1. Penyeleksian Anggota

      Seleksi anggota kelompok dilakukan agar dapat memperoleh anggota yang sesuai dengan kelompok dan agar dapat berjalan dengan baik

    2. Ukuran Kelompok

      Dengan anggota kelompok yang lebih dari supuluh orang menyebabkan interaksi antar anggota tidak dinamis, untuk itu anggota kelompok lebih baik tidak lebih dari sepuluh orang

    3. Waktu Pertemuan

      Menurut Santoso ( 1987:17) waktu pertemuan untuk konseling kelompok disekolah pedoman yang dapat dipakai sebagai berikut :

  • Bagi siswa sekolah dasar atau SD : 30 sampai 45 menit
  • Bagi siswa sekolah tingkat pertama atau SLTP : 60 sampai 90 menit
  • Bagi siswa sekolah tingkat atas atau SLTA : 90 sampai 120 menit
  1. Jenis Kelompok

Menurut Santoso (1987:18) ada dua jenis kelompok yaitu :

  1. Kelompok terbuka

    Dalam kelompok ini anggota kelompok dapat berubah-ubah selama proses konseling berlangsung

  2. Kelomok tertutup

    Dalam kelompok tidak memungkinkan adanya penambahan anggota baru selama proses konseling sudah berjalan.


     

  1. Tempat Pertemuan

    Tempat pertemuan yang baik adalah tempat yang paling enak dirasakan oleh anggota kelompok dan kelompok tidak merasa terganggu selama pertemuan berlangsung. Tempat pertemuan konseling kelompok untuk penelitian ini dilaksanakan diruang kelas MAN 1 kudus yang tidak digunakan belajar.


     

  2. Tahapan Koseling Kelompok

    Menurut Wibowo ( 2005:86) proses konseling kelompok meliputi empat tahapan yaitu :

    1. Tahap permulaan

      Pada tahap permulaan diperlukan persiapan terbantunya kelompok. Peran konselor dalam tahap ini benar-benar aktif. Ini tidak berarti bahwa konselor berceramah atau mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan oleh anggota kelompok. Menurut Wibowo (2005:88) konselor perlu melakukan :

  • Penjelasan tentang tujuan kegiatan
  • Penumbuhan rasa saling mengenal antar anggota
  • Penumbuhan sikap saling mempercayai dan saling menerima
  • Pembahasan tentang tingkah laku dan suasana perasaan dalam kelompok


     


     

  1. Tahap transisi

    Dalam tahap transisi ini, konselor dapat melaksanakan kegiatan dengan menjelskan kembali kegiatan kelompok, tanya jawab, tentang kesiapan anggota untuk kegiatan lebih lanjut, mengenali dan mengatasi suasana apabila anggota secara keseluruhan atau sebagian belum siap untuk memasuki tahap berikutnya

  2. Tahap kegiatan

    Tahap kegiatan sering disebut juga sebagai tahap bekerja. Tahap ini merupakan tahap kehidupan yang sebenarnya dari konseling kelompok yaitu para anggota memusatkan perhatian terhadap tujuan yang akan dicapai, menyelasaikan tugas, dan mempraktekkan perilaku-perilaku baru. Selama dalam kegiatan, konselor dan anggota kelompok merasa lebih bebas dan nyaman dalam mencoba tingkah laku baru dan strategi baru, karena sudah terjadi saling mempercayai satu sama lain

  3. Tahap pengakhiran

    Ketika kelompok memasuki tahap pengakhiran, kegiatan kelompok hendaknya dipusatkan pada pembahasan dan penjelajahan tentang apakah anggota kelompok mampu menerangkan hal-hal yang telah mereka pelajari dalam kehidupan nyata. Peran konselor disini ialah memberikan penguatan terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh anggota kelompok dan oleh kelompok, khususnya terhadap keikutsertaan secara aktif para anggota dan hasil-hasil yang telah dicapai untuk masing-masing anggota kelompok.

  1. Materi Konseling Kelompok

    Materi konseling kelompok yang terkait dengan kominikasi interpersonal dalam penelitian ini adalah :

    1. Empati
    2. Respek
    3. Tulus ikhlas
    4. Mengajak terbuka untuk berbicara
    5. Mendengarkan secara akurat
    6. Mengikuti pokok pembicaraan
    7. Dorongan minimal
    8. Paraphrase dan refleksi
    9. Merespon

    Materi yang disampaikan dalam konseling kelompok adalah materi yang berhubungan dengan item dalam angket tentang komunikasi interpersonal yang dialami konseli dan cara mengatasi masalah


 

  1. Komunikasi Interpersonal
    1. Pengertian komunikasi interpersonal

      Menurut Effendi (dalam Liliweri, 1997:12) mengemukakan bahwa komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antar seorang komunikator dengan seorang komunikan.

      Menurut Dean C. Barnlund (dalam Liliweri, 1997:12) komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi pertemuan antar dua, tiga, atau mungkin empat orang yang terjadi secara spontan dan tidak berstruktur.

      Dari uraian tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa komunikasi interpersonal atau komunikasi antar peribadi adalah pertemuan antara dua, tiga, atau mungkin empat orang melalui pengiriman pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain dengan efek atau umpan balik yang terjadi sehingga dapat mengubah tingkah laku seseorang


       

    2. Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal
      1. Terjadi dengan media utama adalah tatap muka
      2. Arus pesan dua arah
      3. Menggunakan lambang-lambang yang bermakna
      4. Harus membuahkan hasil
      5. Komunikasi interpersonal saling mempengaruhi dan mengubah


       

    3. Sifat-sifat komunikasi interpersonal

      Menurut Liliweri (1997:29) komunikasi intepersonal mempunyai sifat-sifat khusus yaitu:

      1. Melibatkan perilaku melalui pesan verbal dan non verbal
      2. Melibatkan pertanyaan atau ungkapan yang spontan
      3. Lebih bersifat dinamis dan tidak statis
      4. Melibatkan umpan balik pribadi
      5. Dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik
      6. Meliputi kegiatan dan tindakan

      Dari keterangan diatas dapat diketahui bahwa komunikasi interpersonal bersifat psikologis yang membentuk proses sosial sehingga komunikasi interpersonal mempunya ciri khas karena selalu dimulai dari proses hubungan yang bersifat psikologis yang selalu mengakibatkan keterpengaruhan.


       

    4. Proses komunikasi Interpersonal

      Proses komunikasi yang lebih umum merupakan seluruh langkah mulai dari saat menciptakan pesan sampai saat pesan tersebut dipahami oleh orang-orang yang terlibat dalam komunikasi


       

    5. Keterampilan dasar berkomunkasi

    Beberapa keterampilan dasar berkomunikasi menurut Johnson (dalam Supratiknya, 1995:10) adalah sebagai berikut :

  • Kita harus mampu saling memahami
  • Kita harus mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan kita secara tepat dan jelas
  • Kita harus mampu saling menerima dan saling memberi dukungan atau saling menolong


     


     

  1. Jenis-jenis komunikasi

Menurut Ilham Firmansyah komunikasi terdiri dari enam jenis sebagai berikut ini (tersedia dalam http://kawanlaba.wardpres.com) :

  • Komunkasi intrapersonal
  • Komunikasi interpersonal
  • Komunikasi kelompok
  • Komunikasi publik
  • Komnikasi organisasi
  • Komunikasi masa


     

  1. Faktor-faktor yang Menukbuhkan hubungan dalam komunikasi interpersonal.
    1. Percaya / Trust

      Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dihianati, maka orang itu pasti akan kebih mudah membuka dirinya.

    2. Sikap suportif

      Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunkasi

    3. Sikap terbuka (open mindedness)


     

  2. Faktor yang mempengaruhi komunikasi inter personal

    Jalaluddin Rakhmat (1994:2) dan (tersedia dalam http://adiprokoso.blogspot.com) menyakini bahwa komunikasi antar pribadi dipengaruhi oleh :

    1. Persepsi Interpersonal

      Persepsi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimulus inderawi yang berasal dari seseorang (komunikan), yang berupa pesan verbal dan non verbal

    2. Konsep diri

      Konsep diri adalah pandangan kita tentang diri kita

    3. Atraksi interprsonal

      Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang

    4. Hubungan interpersonal

      Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antar seseorang dengan orang lain


     

  1. Pengaruh Konseling kelompok Terhadap Komunikasi Intrpersonal siswa

    Layanan konseling kelompok dapat membantu berkomunikasi interprsonal dengan baik antar anggota yang meliputi empati, respek, tulus ikhlas, keterbukaan, paraphrase dan refleksi. Sehingga konseling kelompok sangat berengaruh untuk menumbhkan dan meningkatkan komunikasi interpersonal siswa.


     

  2. Hipotesis

    Hipotesis kerja (HA) dalam penelitian ini adalah "ada pengaruh yang positif dan signifikan antara konseling kelompok terhadap komunikasi interpersonal siswa X.8 MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011"

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN


 

  1. Rancangan Penelitian

    Untuk mempermudah proses penelitian maka disusun rancangan penelitian sebagai berikut :

    1. Menentukan objek penelitian. Objek yang akan diteliti pada penelitian ini adalah pengaruh koseling kelompok terhadap komunikasi interpersonal siswa X.8 MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011
    2. Meminta ijin kepala sekolah untuk melaksanakan penelitian tanggal 19 Mei 2011
    3. Mengadakan uji coba instrumen penelitian 20 Mei 2011
    4. Mengadakan pengumpulan data awal dengan menggunakan angket sebelum dilaksanakan perlakuan (konseling kelompok) 6 Juni 2011
    5. Memberikan perlakuan dengan cara melaksanakan layanan konseling kelompok terhadap siswa yang meperoleh sekor terendah tanggal 9 Juni 2011
    6. Mengadakan pengumpulan data akhir setelah siswa diberi perlakuan (konseling kelompok) 11 Juni 2011
    7. Mengadakan analisis data sebelum dan sesudah perlakuan (konseling kelompok) diberikan dengan menggunakan uji t (t. test)


     

    1. Pendekatan dan jenis penelitian

      Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif yang menggunakan angka hasil perhitungan/pengukuran.

      Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Penelitian kuasi eksperimen dapat diartikan sebagai penelitian yang mendekati eksperimen atau eksperimen semu.


       


       

    2. Penentuan Subjek Penelitian

      Siswa yang menjadi subjek penelitian adalah X.8 MAN 1 KUDUS Tahun Pelajaran 2010/2011, sebanyak 38 siswa dengan rincian laki-laki 16, perempuan 22, kemudian dari 38 siswa diberi angket, setelah itu hasil angket didata kemudian diambil 7 siswa (laki-laki 4 dan perempuan 3) yang mempunyai komunikasi interpersonal yang rendah untuk diberikan layanan konseling kelompok


       

    3. Metode Pengumpulan Data

3.4.1 Metode Angket

Dalam penelitian ini metode angket digunakan untuk pengungkap data tentang tingkat komunikasi interpersonal siswa. Penyebaran angket dilakukan sebanyak 2 kali dengan angket yang sama yaitu sebelum dan sesudah layanan konseling kelompok. Angket/kuesioner yang diberikan sebelum layanan konseling kelompok merupakan pengisian angket awal untuk memperoleh kondisi awal siswa. Sedangkan angket yng diberikan setelah layanan konseling kelompok merupakan pengisian angket untuk mengetahui perubahan komunikasi interpersonal siswa. Adapun kisi-kisi :

Tabel 1

Kisi-kisi Angket Komunikasi Interpersonal

Variabel

Sub Variabel

Indikator

Nomor

item

Komunikasi interpersonal

  1. Empati
  • Dapat merasakan apa yang sedang dirasakan teman.
  • Memahami maksud pembicaraan teman.
  • Menerima keluhan teman
  • Berusaha menolong teman yang sedang membutuhkan.

1


 

2


 

3

4

 
  1. Respek
  • Mendengarkan pembicaraan teman dengan penuh perhatian.
  • Menanggapi pembicaraan teman dengan baik.
  • Menghargai teman ketika sedang berbicara.

5


 


 

6


 

7

 
  1. Tulus Ikhlas
  • Tidak memotong pembicaraan teman.
  • Membantu memecahkan permasalahan teman tanpa mengharapkan imbalan.
  • Dapat berbicara jujur kepada siapapun.
  • Teman dapat terbuka dan jujur kepada saya.
  • Dengan berbicara jujur, hati menjadi tenang
  • Dengan berbicara jujur, akan dihargai teman.

8


 

9


 


 

10


 

11


 

12


 

13

 
  1. Mengajak Terbuka untuk berbicara
  • Dengan terbuka, teman dapat mengemukakan perkataan dengang baik.
  • Bersikap akrab dengan teman, dapat memudahkan memahami pembicaraan.
  • Mampu berbicara dihadapan orang banyak.
  • Melibatkan dalam mem bahas permasalahan teman.
  • Mampu mengajak teman untuk meneruskan pemicaraan.
  • Berusaha berbagai pengalaman dengan teman.

14


 


 

15


 


 


 


 

16


 

17


 


 

18


 


 

19

 
  1. Mendengarkan secara akurat.
  • Berusaha mendengarkan pembicaraan teman dari awal sampai akhir.
  • Berusaha bertanya apabila tidak jelas.
  • Mmapu introspeksi diri dengan perkataan teman.
  • Mampu memperjelaskan perkataan yangmasih kurang dimengerti.
  • Mampu menguraikan hal-hal yang dikemukakan.

20


 


 

21


 

22


 

23


 


 

24


 

 
  1. Mengikuti Pokok Pembicaraan
  • Mengikuti pembicaraan teman dengan baik.
  • Mampu memusatkan perhatian pada pembicaraan teman.
  • Dapat mengerti pokok pembicraan yang diutarakan teman.

25


 

26


 


 

27


 


 

 
  1. Dorongan Minimal
  • Mendorong teman untuk bebuat lebih baik
  • Mampu memberi kesempatan dan keleluasaan teman untuk berbicara.
  • Memberikan dorongan atau semangat bagi teman yang mempunyai masalah.

28


 

29


 


 


 

30


 


 

 
  1. Paraphrase dan Refleksi
  • Mampu mengutarakan isi pikiran teman dengan menggunakan kata-kata sendiri.
  • Mampu mengungkapkan kembali perasaan teman dalam pembicaraan.
  • Dapat menyimpulkan sementara tentang pembicaraan teman.

31


 


 


 

32


 


 

33

 
  1. Merespon
  • Mampu membantu mengambil keputusan secra tepat
  • Mampu menangapi perkataan teman secara berurutan.
  • Mampu menangapi perkataan yang dianggap penting.
  • Mampu menanggapi perasaan teman dalam pembicaraan.
  • Mampu menanggapi perkataan teman yang disembunyikan.

34


 


 

35


 


 

36


 


 

37


 


 

38


 

Bobot skor setiap jawaban yang disusun, maka skor jawaban yang diberikan adalah :

Tabel 2

Skor Penilaian Jawaban Angket

Jawaban

Skor jawaban

Sangat Sesuai (SS)

4

Sesuai (S)

3

Kurang Sesuai (KS)

2

Tidak Sesuai (TS)

1

3.4.2 Metode Wawancara

Wawancara sebagai alat pelengkap dalam penelitian ini karena dalam proses konseling yang digunakan adalah wawancara. Wawancara dilakukan dengan guru BK yang menangani dan dengan wali kelas X.8. Dalam konseling kelompok yang sudah dilaksanakan selama 3 kali konseling kelompok.


 

3.4.3 Metode Observasi

Dari penelitian ini, sikap yang diobservasi adalah yang berhubungan dengan komunikasi intrpersonal yaitu mengenai :

  1. Empati
  2. Respek
  3. Tulus ikhlas
  4. Mengajak terbuka untuk berbicara
  5. Mendengarkan secara akurat
  6. Mengikuti pokok pembicaraan
  7. Dorongan minimal
  8. Paraphrase dan refleksi
  9. Merespon


     

3.4.4 Metode dokumentasi

Dalam penelitian ini dokumentasi sebagai metode pelengkap yaitu Data diperoleh dari 7 siswa yang berasal dari hasil angket dan buku induk siswa.

        Hasil dari dokumentasi yaitu sebagai berikut:

3.4.4.1 Nama            : AM

Kelas            : X.8

Jenis kelamin        : Laki-laki

TTL                : Kudus, 16-6-1995

Agama            : Islam

Kewarganegaraan        : Indonesia

Anak ke            : 1

Jumlah sdr kandung    : 2

Nama Ayah            : AS

Nama Ibu            : AD

Alamat            : Mejobo Rt 4 Rw 2 Kudus


 

3.4.4.2 Nama            : RK

Kelas            : X.8

Jenis kelamin        : Laki-laki

TTL                : Kudus, 11-7-1995

Agama            : Islam

Kewarganegaraan        : Indonesia

Anak ke            : 4

Jumlah sdr kandung    : 3

Nama Ayah            : KJ

Nama Ibu            : SM

Alamat            : Tenggeles


 

3.4.4.3 Nama            : BMP

Kelas            : X.8

Jenis kelamin        : Perempuan

TTL                : Kudus, 30-10-1995

Agama            : Islam

Kewarganegaraan        : Indonesia

Anak ke            : 1

Jumlah sdr kandung    : 2

Nama Ayah            : MS

Nama Ibu            : AM

Alamat            : Mejobo


 

3.4.4.4 Nama            : SI

Kelas            : X.8

Jenis kelamin        : Laki-laki

TTL                : Kediri,12-5-1995

Agama            : Islam

Kewarganegaraan        : Indonesia

Anak ke            : 1

Jumlah sdr kandung    : 1

Nama Ayah            : SM

Nama Ibu            : JM

Alamat            : Bae


 

3.4.4.5 Nama            : SF

Kelas            : X8

Jenis kelamin        : Perempuan

TTL                : Kudus, 19-2-1996

Agama            : Islam

Kewarganegaraan        : Indonesia

Anak ke            : 3

Jumlah sdr kandung    : 8

Nama Ayah            : AM

Nama Ibu            : JS

Alamat            : Temuls Mejobo


 


 

3.4.4.6 Nama            : RA

Kelas            : X8

Jenis kelamin        : Perempuan

TTL                : Kudus, 30-4-1995

Agama            : Islam

Kewarganegaraan        : Indonesia

Anak ke            : 2

Jumlah sdr kandung    : 3

Nama Ayah            : SY

Nama Ibu            : SS

Alamat            : Undaan Lor


 

3.4.4.7 Nama            : FA

Kelas            : X8

Jenis kelamin        : Laki-laki

TTL                : Kudus, 10-4-1995

Agama            : Islam

Kewarganegaraan        : Indonesia

Anak ke            : 3

Jumlah sdr kandung    : 3

Nama Ayah            : KS

Nama Ibu            : RS

Alamat            : Golan Kulon


 

  1. Uji validitas dan reliabilitas
    1. Validitas

    Angket yang telah disusun akan diuji validitasnya dengan menggunakan analisis butir. Sebagaimana dijelaskan oleh Arikunto (1998:168) bahwa analisis yang digunakan untuk menguji validitas setiap butir, skor-skor yang ada pada butir angket dikorelasikan dengan skor total. Rumus yang akan digunakan adalah korelasi product mement sebagai berikut :


     

        


     

    Keterangan :

    Rxy        : Koefisien korelasi antara x dan y

    N        : Jumlah responden

    X        : Jumlah nilai atau skor butir total

    Y        : Jumlah nilai atau skor total

        Setelah dilakukanuji validitas menggunakan rumus product moment dari ke 38 item dalam angket di peroleh 32 item yang valid dan 6 item yang tidak valid yaitu no. 18, 24, 26, 35, 37, 38. Nomor yang tidak valid selanjutnya di buang karena dari 32 item yang sudah valid sudah mewakili semua indicator dalam komunikasi interpersonal. Berdasarkan item yang tidak valid tersebut, angket komunikasi interpersonal dibuat instrument dengan perubahan nomor urut (seperti terlampir) yang dipakai untuk penelitian ini.


     

    1. Reliabilitas

    Menurut Margono (2000:184) mengemukakan teknik reliabilitas secara berturut-turut yaitu : tehnik ulang (test-retest), tehnik paralel tehnik belah dua.

    Dalam penelitian ini, tehnik yang dipakai menggunakan tehnik belah dua dianalisis dengan rumus Spearman-Brown yaitu :


     


 


 

Keterangan :

R11    : reliabilitas instrumen

    R1/21/2    : r x y yang disebut sebagai indeks korelasi antara dua belah instrumen


 


 

  1. Analisi Data

    Analisi data dalam penelitian adalah menggunakan proses dan rumus uji t.

    1. Prosentase

      Prosentase berasal dari kata prosen yang berarti perseratus. Peratus (Poerwadarminta, 1982:769)


       

      NP =


       


       

      Keterangan :

      NP          : Nilai Prosentase

      Jumlah Skor Riil         : jumlah skor yang diperoleh responden dalam menjawab pertanyaan

      Jumlah Skor Mak     : jumlah skor yang paling banyak atau tertinggi dari hasil hitung pertanyaan angket (Arikunto, 2002:246)

    2. Uji t


       


       


 

Keterangan :

Md    : mean dari perbedaan pre test dengan post tes

Xd    : Deviasi masing-masing subjek (d-0 md )

∑X2d    : jumlah kuadrat deviasi

N    : subjek pada sempel

d.f    : / db ditentukan dengan N-1 (Arikunto,2002:79)


 

    Setelah dianalisis menggunakan uji t , penaruh konseling kelompok terhadap komunikasi interpersonal siswa dapat diketahui dengan dikatakan berpengaruh apabila t hitung hasilnya lebih tinggi dari t tabel.


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB IV

HASIL PENELITIAN


 


 

  1. Deskripsi Data

    Dalam mendiskripsikan data mengenai pengaruh konseling kelompok terhadap komunikasi interpersonal siswa kelas X.8 MAN 1 Kudus Semester 2 Tahun Ajaran 2010/2011. Maka harus melalui tahapan melalui dari penyusunan data serta analisis data penelitian kemudian akan di interprestasikan dalam pengujian hipotesis.

    Data dari skor angket komunikasi interpersonal siswa sebelum pemberian konseling kelompok dan sesudah pemberian konseling kelompok hasilnya dapat dijabarkan.

    Skor angket komunikasi interpersonal siswa kelas X.8 MAN 1 KUDUS Semester 2 tahun Pelajaran 2010/2011


     


 


 

  1. Tehnik Analisis Data
    1. Tehnik Analisis Presentase

      Pencapaian skor angket komunikasi intrapersonal sebelum pemberian layanan konseling kelompok


     


     

    Dari kedelapan siswa yang dalam kategori kurang akan diberikan layanan konseling kelompok. Setelah dilakukan layanan konseling sebanyak 3 kali, maka pada pertemuan terakhir (ketiga) 7 siswa diberikan angket dan hasil angket setelah diberi layanan konseling kelompok sebagai berikut :

    Pencapaian skor angket komunikasi interpersonal setelah pemberian layanan konseling kelompok


     


     

    Untuk hasil perolehan sekor angket komunikasi interpersonal sebelum dan sesudah pemberian layanan konseling kelompok dapat dilihat perbedaan prosentase skor secara keseluruan sebagai berikut :


     

    Perolehan skor angket komunikasi interpersonal secara keseluruhan


     

    Dari penerapan hasil angket komunikasi interpersonal tersebut dapat diketahui adanya perubahan pada pencapaian kemampuan komunikasi interpersonal siswa kelas X.8 MAN 1 Kudus Semester 2 sebelum dan setelah diberikan layanan konseling kelompok sebanyak lima kali secara keseluruhan yaitu dari 59,47% menjadi 71,38%


     

    1. Analisi Uji t

    Adapun nilai statistik hasil perhitungan (5,026) lebih tinggi dibanding dengan nilai t tabel (2,306), maka hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa variabel bebas secara individual mempunyai variabel terikat diterima.

    Berdasarkan hasil analisis yang didapat kemudian dengan tabel uji t dengan N = 7 taraf signifikan 5% = 2,306, ternyata hasil perhitungan lebih besar dari harga tabel (5,026 > 2,306) maka dapat dikatakan signifikan.

  2. Pembahasan

    Berdasarkan hasil penelitian yang mengungkap tentang pengaruh konseling kelompok terhadap komunikasi interperseonal siswa kelas X.8 MAN Kudus Semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011 menunjukkan presentase siswa mencapai ketegori sengat baik dalam komunikasi interpersonal ada 3 anak (7,14%), siswa yang masuk dalam ketegori baik ada 13 anak ( 30,95%), siswa yang masuk dalam kategori cukup ada 15 anak (42,85%), dan siswa yang masuk dalam kategori kurang ada 7 anak (19,04%). Dari ketujuh anak diberikan konseling kelompok. Setelah diberikan konseling kelompok sebanyak 3 kali, sebelum mendapat layanan konseling kelompok prosentasenya sebesar 59,47% setelah mendapat layanan konseling kelompok prosentasenya sebesar 71,38%. Jadi mendapat peningkatan skor angket 11,91%.

    Dari analisi uji beda dengan menggunakan rumus T-tes hasilna menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan angket sesudah layanan hal ini ditunjukkan dengan perolehan t hitung 5,026 > t tabel taraf signifikasi 5% untuk N=7 adalah 2,306 (5,026 > 2,306)

    Dari hasil angket sesudah layanan dengan lima kali konseling kelompok dapat diketahui bahwa siswa mengalami peningkatan dan kemampuan untuk dapat berkomunkasi secara terbuka dengan kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengan orang lain, kemampuan mengatur dan mengarahkan diri sendiri, memiliki kepekaan dalam berinteraksi/hubungan dengan orang lain, belajar untuk memecahkan masalah, mampu memberikan kepada orang lain, dan mampu membuat keputusan secara tepat

    Hipotesis penelitian yang berbunyi "Ada Pengaruh yang Positif dan Signifikan konseling kelompok terhadap komunikasi interpersonal siswa kelas X.8 MAN Kudus tahun pelajaran 2010/2011 dapat diterima karena teruji kebenarannya. Hal ini dibuktikan dengan perolehan angket secara keseluruhan yang meningkat sebesar 11,91% yaitu dari sekor perolehan angket sebelum layanan sebesar 59,47% kemudian menjadi 71,38% pada sekor perolehan angket sesudah layanan konseling kelompok. Setelah itu, juga dari hasil analisi uji beda yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan komunikasi interpersonal siswa kelas X.8 MAN Kudus Semester 2 Tahun Ajaran 2010/2011 sebelum memperoleh layanan konseling kelompok dan sesudah memperoleh layanan konseling kelompok.


     


     

BAB V

PENUTUP


 

  1. Simpulan

    Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat menyimpulkan sebagai berikut :

    1. Hasil analisis prosentase diperoleh kategori sangat baik ada 0 anak (0%), siswa yang masuk kategori baik ada 3 anak (37,5%), siswa yang masuk kategori cukup ada 2 anak (37,5%), dan siswa yang masuk dalam kategori kurang ada 2 anak (25%).
    2. Hasil analisis uji beda dengan T-tes menunjukkan perolehan t hitung = 5,026 lebih besar dari t tabel untuk N=7 pada taraf signifikan 5%= 2,306. Jadi, hipotesis yang berbunyi " Ada Pengaruh Positif yang Signifikan konseling kelompok terhadap komunkasi interpersonal siswa kelas X.8 MAN Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011" diterima dan teruji kebenarannya.


       

  2. Rekomendasi

    Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, penulis memberikan saran :

    1. Kepada guru Pembimbing

      Diharapkan guru pembimbing membantu siswa dalam mengubah perilaku yang berorientasi pada pengembangan pribadi siswa, pencegahan dan pengentasan masalah siswa yang bersangkutan dengan menggunakan konseling kelompok.

    2. Kepada Orang Tua

      Diharapkan orang tua membantu anakya didalam peningkatan sensivitas, memperoleh pemahaman diri, meningkatkan komunikasi interpersonal, memperoleh pemahaman yang luas terhadap faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian anaknya.

    3. Kepada siswa

      Diharapkan siswa dengan adanya layanan konseling kelompok akan mendapat kesempatan yang luas untuk berkomunikasi dengan teman mengenai segala kebutuhan yang berfokus pada pengembangan pribadi, pencegahan dan pengentasan masalah sehingga akan meningkatkan komunikasi interpersonal.


       


 

DAFTAR PUSTAKA


 

Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Latipun. 2001. Psikoligi Konseling. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang Pres.

----------. 2004. Psikologi Konseling. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang Pres.

Liliweri, Alo. Komunikasi Antar Pribadi. Bandug. PT Citra Adya Bakti.

Mappiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional.

Margono. 2000. Metode Penalitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Prayitno. 2004. Layanan Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok. Padang : Universitas Negri Padang.

Rahmad, Jalaluddin. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.

Santoso, Totok. 1987. Konseling Kelompok di Sekolah (Suatu Pengeantar). Salatiga : FKIP Universitas Kristen Satya Wacana.

Sukardi, Dewa Ketut. 2000. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Supratiknya. 1997. Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta : Kanisius.

Wibowo, Eddy Mungin. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang : UPT Universitas Negeri Semarang Pres.

Wikipedia Bahasa Indonesia home pege. 2007. Komunikasi. (online). Tersedia dalam http//id.wikipedia.org/wiki. (30-01-2009)

Winkel, WS dan Sri Hartuti. 2004. Bimbingan dan Konseing di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Madia Abadi.


 


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar